Akhir Pekan ini di Bandung, Dua Galeri Buka Pameran Bersama Seni Rupa

ANWAR SISWADI, TEMPO.CO, 10 November 2022

TEMPO.COJakarta - Dua galeri di Bandung membuka pameran bersama seni rupa mulai akhir pekan ini. Di Galeri Pusat Kebudayaan Jalan Naripan, sebelas seniman menggelar karyanya pada pameran berjudul Free Kick yang berlangsung 11-19 November 2022. Sementara belasan seniman lainnya memajang karya di Galeri Lawangwangi mulai 11-23 November.

 

 

Pameran yang berjudul Setelah yang Lirada itu menghimpun 13 seniman. Mereka yaitu Alexander Sebastianus, Aulia Yeru, Eldwin Pradipta, Etza Meisyara, Evi Pangestu, Mujahidin Nurrahman, Rega Ayundya P. Kemudian Rendy Raka Pramudya, Restu Taufik Akbar, Stevan Sixcio, Taufiq H.T, Wildan Indra Sugara, dan Zusfa Roihan.

 

Representasi Tidak Konvensional

Menurut kurator Ganjar Gumilar, belasan seniman itu operasi representasinya tidak lagi konvensional. Kekaryaannya ada mewujud bentuk secara signifikan, abstraksi digital, juga mempersoalkan alih perwujudan. Namun begitu masih ada karya yang menanggapi dan me representasikan persoalan.

“Pendekatan ini menjadikan mereka untuk hadir dalam teritori spekulatif dimana representasi dan non-representasi dapat beririsan hadir bersamaan,” katanya lewat keterangan tertulis, Jumat, 11 November 2022.

Sementara pameran Free Kick, melibatkan Eko Bambang Wisnu, Eris Lungguh, Iwan Ismael, John Martono, Mariam Sofrina, Mufti Priyanka. Lalu ada Nesar Eesar, Prabu Perdana, Tommy Aditama Putra, Toni Antonius, dan Yogie A.Ginanjar.

----

Karya Tidak Lazim tentang Kenyataan

Kuratornya, Aa Nurjaman mengatakan, karya para seniman dalam pameran itu memburu sisi-sisi unik, tidak terduga dan tidak lazim tentang kenyataan. “Juga kemungkinan-kemungkinan tersembunyi yang disiratkan oleh realitas,” katanya dalam catatan kuratorial, Jumat, 11 November 2022.

Seniman Tommy Aditama Putra misalnya lewat karya campuran gambar dan lukisan berjudul Psychedelic Gorilla City Pop, seperti mengenalkan suatu metode terapi bagi orang yang menghadapi masalah bipolar. Alasannya menurut Nurjaman, karya itu memperlihatkan pengalihan emosi masalah kejiwaan menjadi suatu kreativitas.