“Waktu adalah api yang Ku Bakar” is a series of woven translations of Sebastianus’s writing on the burning of time, the running from home and hazing of past memories. Ritualized in words, cremation and woven translation, Sebastianus revisits the materialization of literature within a contemporary contextual practice. A poetry was written, yet sung through fire, remained in fading colors dyed and woven as flesh. Each piece response to a visual stanza from Sebastianus’s syair/writing. Handwoven each thread are blessed and hand-dyed through a traditional Ikat tying and dyeing process, which resist dyes to enter. Traditionally depict memoirs and tales in symbols of Eastern Indonesia, this series paints memories in formless colors and haze, blurring the essence of what we can remember:



Saat. Detik berlalu dalam saat. Saat, bernyala penuh jiwa dan warna.Warna tanpa bentuk.

Hanya perasaan, Yang ku ingat dalam saat.

Cahaya menyarap warna. Tiba cahaya, Kutemukan kau cahaya yang mengejarku, Cahaya dalam waktu hanya bertahann sesaat, Sampai waktu dan aku melarikan saat. Melarikan saat karena cahayamu yang aman, Nyaman. Tanpa menyadari semua semua yang kubakar lekas,Semua yang terbakar hilang, Dalam lisan, bentuk dan suaramu hilang,Hanya bayangan warna dan cahaya yang pudar mengikuti pundaku. Buram seperti pandangan jendela kereta api, Lukisan warna cahaya membelakangi waktu.

Waktu adalah api yang ku bakar.



This body of work is first published in Titik Kumpul by ISA Art & Design for the Art Jakarta, 2022. Now showing 26-28 August, 2022 at JCC Senayan, Jakarta.